cyberbullying dan tanggung jawab platform
batas antara kebebasan bicara dan kebencian
Pernahkah kita membayangkan apa yang akan terjadi jika kita diberi jubah gaib yang bisa membuat kita menghilang? Ribuan tahun lalu, seorang filsuf bernama Plato pernah memikirkan hal ini melalui cerita Ring of Gyges. Menurutnya, jika manusia diberi kebebasan absolut tanpa konsekuensi, bahkan orang paling baik pun bisa berubah menjadi tiran. Hari ini, kita tidak butuh jubah gaib atau cincin ajaib itu. Kita hanya butuh layar smartphone dan kolom komentar.
Coba kita perhatikan fenomena cyberbullying yang rasanya semakin hari semakin mengerikan. Kita melihat orang-orang biasa—yang mungkin di dunia nyata ramah dan sopan—tiba-tiba bisa mengetikkan caci maki paling brutal kepada seseorang yang bahkan tidak mereka kenal. Pertanyaannya, apakah internet membuat kita menjadi jahat? Atau internet sekadar membuka topeng siapa kita sebenarnya? Saya rasa, jawabannya jauh lebih rumit, dan jauh lebih menarik dari sekadar hitam dan putih.
Mari kita bedah sedikit dari kacamata psikologi. Teman-teman, otak kita ini adalah produk evolusi yang dirancang untuk berinteraksi secara tatap muka. Ketika kita berbicara langsung dengan seseorang, ada ribuan sinyal tak kasat mata yang ditangkap oleh otak. Kedutan di ujung mata, nada suara yang meninggi, atau postur tubuh yang menegang. Semua ini memicu respons di prefrontal cortex kita, bagian otak yang mengurus empati dan kendali diri.
Namun, ketika kita menatap layar, semua sinyal empati itu terputus. Para psikolog menyebutnya sebagai online disinhibition effect. Karena kita tidak melihat wajah korban kita berkerut menahan tangis, otak kita gagal mengenali mereka sebagai manusia seutuhnya. Mereka hanyalah deretan piksel dan username. Tanpa rem empati ini, dorongan primitif dari amygdala—pusat emosi dan amarah di otak kita—mengambil alih. Kita merasa aman. Kita merasa anonim. Dan di titik inilah, batas antara kritik dan kebencian mulai mengabur.
Tapi tunggu dulu. Jika ini murni masalah error pada otak manusia, lalu bagaimana dengan tempat di mana semua keributan ini terjadi?
Di sinilah kita harus membicarakan raksasa-raksasa teknologi, sang pemilik platform media sosial. Sering kali, saat dituntut pertanggungjawaban atas cyberbullying massal atau ujaran kebencian, platform akan berlindung di balik tameng suci bernama freedom of speech atau kebebasan berpendapat. Mereka berkata, "Kami hanya menyediakan jalan tolnya, kami tidak bertanggung jawab atas mobil yang ugal-ugalan."
Terdengar masuk akal, bukan? Namun, apakah benar platform media sosial hanyalah sebuah panggung kosong yang netral? Jika kebebasan berpendapat adalah hak asasi, apakah kebebasan untuk menghancurkan mental seseorang juga termasuk di dalamnya? Ada sebuah rahasia besar di balik cara kerja layar yang sedang kita tatap ini, dan sayangnya, ini bukan tentang kebebasan sama sekali.
Ini dia fakta sains yang sering disembunyikan di bawah karpet: algoritma media sosial tidak dirancang untuk menjadi netral. Mereka dirancang untuk satu hal, yaitu engagement atau keterikatan. Dan tebak emosi manusia apa yang paling cepat memicu engagement? Bukan kebahagiaan. Bukan kesedihan. Tapi kemarahan.
Riset dari berbagai institusi neurologi menunjukkan bahwa moral outrage atau kemarahan moral bertindak layaknya kokain bagi otak kita. Ia memicu lonjakan dopamine yang membuat kita merasa adil, benar, dan superior. Algoritma media sosial tahu persis hal ini. Mereka tidak hanya membiarkan mobil ugal-ugalan di jalan tol; mereka secara aktif memberi bensin, menyalakan lampu sorot, dan menuntun mobil itu untuk menabrak targetnya.
Batas antara kebebasan bicara dan kebencian sebenarnya sudah lama dilewati ketika algoritma mulai memonetisasi amarah kita. Cyberbullying bukan lagi sekadar efek samping dari internet. Dalam model bisnis ekonomi perhatian (attention economy), keributan, caci maki, dan kebencian adalah bahan bakar utama. Kebencian bukanlah sebuah kerusakan sistem atau bug, melainkan sebuah feature yang menghasilkan triliunan rupiah. Platform tidak sekadar mencuci tangan; mereka diam-diam menghitung keuntungan saat kita sedang sibuk saling menghancurkan.
Jadi, di mana posisi kita sekarang? Kita tidak bisa sekadar menyuruh orang untuk "jadilah baik di internet." Itu sama saja dengan menyuruh orang untuk tidak basah saat badai badai hujan, sementara kita membiarkan atap rumah bocor.
Kita harus mulai berpikir kritis dan menuntut tanggung jawab lebih dari para arsitek digital ini. Kebebasan berpendapat (freedom of speech) tidak sama dengan kebebasan untuk menjangkau jutaan orang dan menghasut kebencian (freedom of reach). Platform harus mulai merancang algoritma yang menghargai empati manusia, bukan sekadar mengeksploitasi amygdala kita demi klik dan iklan.
Dan untuk kita sendiri, mari kita ingat kembali bahwa di seberang sana, di balik avatar dan username itu, ada manusia dengan sistem saraf yang sama, dengan rasa takut yang sama, dan dengan detak jantung yang sama dengan kita. Mari kita ambil kembali kendali atas pikiran kita. Jangan biarkan algoritma mendikte siapa yang harus kita benci hari ini. Karena pada akhirnya, jubah gaib terhebat bukanlah yang membuat kita berani berbuat jahat, melainkan yang membuat kita tetap memilih menjadi manusia yang welas asih, bahkan ketika tidak ada satu orang pun yang melihat.